The Psychology of “Terpelatuk”

Welcome to internet, I will be your guide! via smartthings.com
WARNING : Silahkan baca post ini dengan resiko sendiri. Ingat saya tidak akan pernah dengan sengaja menyinggung anda ataupun golongan tertentu. Semua orang bisa terpelatuk, termasuk saya 🙂

Terpelatuk! Halo pembaca, senang akhirnya bisa kembali menulis setelah beberapa saat disibukkan oleh berbagai aktivitas. Sejujurnya saya tidak mengira hanya dengan 3 artikel, website ini bisa mencapai view count yang menurut saya fantastis. Tentunya pencapaian ini tak lepas dari semua teman-teman  yang mendukung website ini, thank you!

Kali ini saya akan membahas topik yang sedikit lebih ringan, tetapi tidak kalah pentingnya. Fenomena yang kali ini kita bahas adalah “Terpelatuk” , atau biasa dikenal dengan “t e r p e l a t u q u e”. Apa sih terpelatuk itu? dan bagaimana ilmu psikologi menjelaskan fenomena ini? Saya akan bahas secara jelas dan perlahan.

Asal Mula Kata Terpelatuk
Salah satu penggunaan awal meme triggered, via kym-cdn.com

Terpelatuk, merupakan kata terjemahan dari kata bahasa inggris yakni “triggered”. Triggered secara ilmiah berarti reaksi dari stimulus yang membangkitkan ingatan tentang peristiwa negatif atau traumatis. Dimana akhirnya individu yang mengalami fenomena ini akan memasuki mode panik atau tidak stabil secara emosional karena stimulus tersebut.

Istilah ini awalnya secara eksklusif digunakan untuk para penderita PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Namun akhirnya digunakan secara populer di internet untuk menyindir golongan Social Justice Warrior (kelompok di Amerika yang memperjuangkan hak sosial secara berlebihan).

Ciri khas netizen terpelatuk, via idn-times.com

Bagaimana dengan di Indonesia? Triggered diterjemahkan secara bebas menjadi “terpicu”, “terpelatuk”, atau “t e r p e l a t u q u e”. Istilah ini kerap kita gunakan untuk menyindir seseorang yang mudah merasa kesal ketika ada satu aspek dalam dirinya yang disinggung. Lalu mengapa ada orang yang bisa terpelatuk, dan ada yang tidak?

Terdapat 3 ciri psikologis yang bisa menjelaskan bagaimana dinamika diri seseorang yang terpelatuk :

1. Self-esteem rendah
Pepe yang menyedihkan, via onionstatic.com

Kita analogikan sebagai berikut, anggaplah ancaman datang dengan tingkat bahaya yang sama, seperti seekor kucing yang mau menggigit. Siapakah yang jika digigit lebih mudah merasa sakit? Seekor singa atau seekor kucing lainnya?

Terkadang stimulus yang menyinggung kita memiliki impact yang lebih besar pada diri kita dibandingkan orang lain. Sebenarnya hal ini berarti bahwa kita sadar kalau kita itu lemah, dan tidak dapat menghadapi ancaman yang datang pada diri kita. Apakah orang yang memiliki self-esteem tinggi akan tergoyahkan dengan ancaman seperti itu? Tentu tidak.

Sebagai tambahan, orang yang memiliki self-esteem rendah biasanya kurang menghargai dirinya sendiri sebagai individu. Untuk kompensasi dari hal ini, biasanya orang tersebut akan terlalu terobsesi mencari dan menggunakan atribut kelompok. Mengapa? Karena tanpa identitas kelompok, mereka bukan apa-apa.

2. Overly Sensitive
Dafuq what r u lookin at? via memegenerator.net

Coba teman-teman ingat saat pertama kali bisa menggunakan motor/mobil dan turun ke jalan, bagaimana kondisi perhatian anda? Saya yakin anda akan sangat waspada terhadap sekeliling anda. Jika anda melihat sedikit saja motor lain mendekat,  anda akan segera banting stang/setir untuk menjauhi motor lain tersebut.

Sama halnya dengan orang yang mudah terpelatuk. Ketika kita paham diri kita rapuh, kita akan sangat sensitif terhadap hal di sekeliling kita yang bisa menjadi ancaman. “Siapa yang menyinggung kita?” atau “Apakah dia berniat menjelek-jelekkan kelompok kita?”. Seakan-akan seluruh indera dalam tubuh kita arahkan untuk mendeteksi adanya bahaya yang akan datang.

3. Agresif
This is madness! This is Sparta! via wallpup.com

Kenapa manusia bisa agresif? Jawabannya satu, frustrasi. Saat manusia tidak berhasil menyelesaikan problem di hadapan dirinya dengan kepala dingin, nalar, dan pemikiran, maka ia akan memasang badannya. Sama analoginya seperti negara, jika diskusi tidak berhasil maka negara akan bersiap untuk perang. Hal ini memaksa kita kembali ke insting primitif kita, dimana di zaman purba segala hal diselesaikan dengan otot.

Percaya atau tidak, manusia akan kembali ke mode primitif jika mode manusia santunnya sudah tidak bisa lagi berjuang. Ketika seseorang disinggung, ia yang merasa terancam dan tidak bisa membalas secara bijak akan terpelatuk dan mengeluarkan serangan primitif.

 

Kesimpulannya?

Bersosialisasi baik secara langsung maupun melalui media sosial pasti akan membuat kita bertemu dengan orang yang menyinggung diri kita. Entah apakah karena kebenaran yang kita pegang berbeda secara mendasar, atau memang orang itu hanya seorang internet troll. Bagaimana kita memahami dan menjaga diri kita merupakan faktor penting dalam pengembangan diri.

Welcome to internet, I will be your guide! via smartthings.com

Ketika anda terpelatuk, berarti anda mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan dalam diri anda. Tetaplah berinternet dengan bijak.  Jika ada orang yang berbeda pendapat, ketahuilah bahwa itu wajar. Cobalah ambil sudut pandang yang ia miliki, lalu berikan sudut pandang anda dengan baik-baik. Kalau perdamaian bisa tercapai, bagus! Kalau tidak, tinggalkan saja!

Internet adalah tempat yang kejam bung, jadikanlah tulisan ini sebagai pedoman anda 🙂
Komentar Anda

Related Post