[BOOK REVIEW] Lelaki Kantong Sperma, Exposing Other Side of Humanity

diambil dari tatkala.co
Selamat siang teman-teman semua, lama tidak berjumpa. Saat ini saya sedang berusaha mencari kembali dorongan untuk menulis. Di tengah-tengah kesibukan melaksanakan praktek Psikolog di Bali, serta mengembangkan pusat pelatihan meditasi Bali Usada, ingin rasanya menjaga ke-konsisten-an dalam menulis.

Tempo hari saya dihubungi oleh salah seorang kenalan. Ia sedang mencari Psikolog di Bali untuk dapat mengkaji salah satu buku yang dibuat oleh temannya. Jumlah Psikolog di Bali memang masih minim, tak aneh akhirnya ia mendapatkan kontak saya dan meminta tolong saya.

Judul dari buku ini sangat menarik. “Lelaki Kantong Sperma”. Kebetulan saya sedang mencoba mendalami dunia simbolisme dan kaitannya dengan ilmu psikologi. Saya pikir membaca karya sastra merupakan langkah yang tepat untuk memahami seksualitas dari sudut pandang berbeda. Sekali dayung, 2-3 pulau terlampaui.

Tanpa berpanjang lebar lagi, inilah review dari saya :

Seorang anak perempuan menghampiri ibunya sambil berkata “Bu, apa itu nymphomaniac?”
Sang ibu yang sedang memasak, seraya menghentikan irama pisaunya. Lalu ia bersuara “Nymphomaniac adalah istilah untuk perempuan yang memiliki nafsu seksual yang sangat berlebihan”
“Ohh…” gumam anak, “Lalu apa istilah untuk laki-laki yang memiliki nafsu seksual yang sangat berlebihan?”
Laki-laki” jawab sang ibu sambil lanjut memasak.

Potongan adegan ini adalah hal pertama yang muncul di pikiran saya saat membaca buku ini. Sebuah humor singkat yang saya sempat baca di website barat. Humor merupakan suatu hal yang unik, ia membantu kita dalam menyuarakan keresahan yang ada dalam masyarakat. Kita tahu peradaban barat merupakan peradaban yang cukup terbuka akan masalah seksualitas. Mungkin itu salah satu alasan teori-teori psikologi modern bermula dengan warna seksual.

Sigmund Freud merupakan tokoh dunia psikologi yang mengeluarkan pemikiran yang menggetarkan dunia. Ia lah yang mengklaim bahwa manusia memiliki alam bawah sadar, dan alam tersebut didominasi oleh dorongan seksual. Uniknya, bahkan bagi peradaban barat saat itu, hal tersebut dianggap sangat “tabu” dan tidak mencerminkan kemuliaan manusia. Bayangkan jika topik tersebut dikemukakan di Indonesia.

Kajian mengenai dorongan seksual yang mendominasi hidup manusia ini dilanjutkan oleh Carl G. Jung, sang penerus Freud. Beliau menceritakan bahwa dalam manifestasinya, dorongan seksual tidak melulu mengenai aktivitas seksual. Bagaimana kita menarik perhatian orang di sekitar kita, mendekati lawan jenis, atau mendominasi hirarki pengaruh di kantor, semuanya merupakan manifestasi dari dorongan itu.

 

Laki-laki, memiliki kelebihan dalam hal ini.

Ia memiliki nafsu dan dorongan yang lebih besar dalam dirinya. Nafsu ini merupakan salah satu alasan kenapa laki-laki lebih banyak menembus posisi tinggi di dunia perkantoran. Hal yang sama pula merupakan penyebab mengapa perbandingan laki-laki yang mengalami gangguan seksual adalah 20 : 1 dibandingkan perempuan.

Nah, disini poin menariknya. Kenapa ada yang menjadi orang sukses, dan ada yang menjadi penghuni rumah sakit jiwa?

Ketika anda seorang lelaki yang memiliki dorongan vitalitas yang kuat, anda ingin melakukan hubungan seksual sesegera mungkin dengan perempuan. Katakanlah perempuan yang menarik secara fisik, perempuan yang dapat anda pamerkan di hadapan orang lain. Apakah anda langsung menyergapnya di tengah keramaian? Tidak, ada aturan tertulis dan tak tertulis tentang hal itu. Bagaimana anda bisa membentuk hubungan dengan wanita itu? Sederhana, anda berusaha. Apakah dengan kepintaran, kerja keras, kekayaan, humor dan lainnya, anda realisasikan itu, titik. Anda berdiri di puncak hirarki laki-laki, dan anda dapat terkoneksi dengan perempuan selevel anda.

Namun, bagaimana kalau anda tidak mampu?

Jangankan bakat, usaha saja anda tidak mau. Entah karena kemampuan anda sendiri atau karena ombang-ambing trauma kehidupan anda. Anda menjadi lemah. Tetapi, dorongan tersebut masih ada di dalam diri anda. “Uncontrollable Sex Drive” kata dosen saya dulu saat kuliah, adalah syarat utama jika seseorang diklasifikasikan memiliki perilaku seks menyimpang.

Dorongan itu menyeruak ingin keluar seraya menghina diri anda karena tidak mampu untuk membantunya. But it will find its way, dorongan itu akan mencari cara untuk tetap melampiaskan dirinya. Disinilah gangguan psikologis mulai berkembang. Dari suatu spektrum yang kita sebut normal, menjadi unik, menjadi berbeda, menjadi aneh, sampai akhirnya menjadi gangguan.

Pedophilia seumpama, ada beberapa cerita latar belakang yang kita bisa turuti pada diri seseorang sampai pada ending mendapatkan label yang sama, label pedophilia. Dalam buku ini pun terdapat 2 cerita yang menceritakan tentang tema tersebut.

Bayangkan anda seorang laki-laki, yang sama seperti teman seumuran anda. Tetapi boro-boro pacaran, anda bahkan tidak bisa berbicara lancar dengan perempuan seumuran anda. Entah apa karena anda memiliki trauma tertentu atau tidak, yang pasti anda tidak bisa melampaui tantangan itu. Anda mulai membentuk persepsi yang menyimpang tentang wanita dewasa pada umumnya. Apakah mereka keji, angkuh, ataupun tidak suci. Persepsi yang sebenarnya sebagian besar anda buat-buat sendiri. Persepsi yang menjustifikasi preferensi anda untuk beralih minat kepada anak kecil. Dan tanpa anda sadari, anda sudah tersesat terlalu jauh. Jauh menyimpang dari norma sosial yang ada.

Buku ini berhasil menceritakan cerita tersebut dari sudut pandang yang “disturbing”.

Jangankan orang awam, meskipun saya berkecimpung di dunia ini pun saya masih merasa terganggu saat membacanya. Perasaan jijik yang ingin kita hilangkan sesegera mungkin dari dalam benak kita. Buku ini berhasil memunculkan perasaan itu.

Saya bukan orang yang familiar dengan dunia sastra, dan tidak menyangka akan sangat menikmati dalam membacanya. Tak terasa dalam sekali duduk saya sudah melahap habis seluruh ceritanya.

Ada sesuatu yang harus anda tahu mengenai dunia yang menyimpang dalam cerita buku ini. Bahwa dunia ini adalah sesuatu yang sebaiknya kita pahami. Memahami suatu hal yang menjijikkan atau menyeramkan merupakan bagian dari hidup manusia itu sendiri. Menyimpannya dalam-dalam di sudut yang gelap di diri anda justru memberinya kesempatan untuk bangkit dalam bentuk yang berbeda. Tak aneh ketika anda berusaha berempati pada tokoh-tokoh di buku ini, anda akan mendapatkan pemandangan baru.

Pemandangan tersebut akan menimbulkan kesan, bahwa tokoh yang mereka mainkan dalam hidup mereka, bukanlah sesuatu yang benar-benar di luar jangkauan diri anda yang sedang membacanya. Jika anda diberi kesempatan untuk melakoni cerita drama yang dimainkan oleh mereka dengan peran yang sama, lawan main yang sama, adegan yang sama, posisi yang sama, dan waktu yang sama.. anda akan mulai merenung..

Mungkin…

Mungkin anda memiliki kesempatan menjadi penyimpang yang sama pula.

 

Selamat membaca,
Nago Tejena, M. Psi, Psikolog.

Komentar Anda

Related Post