Kebenaran Absolut, Sebuah Permulaan

Awal Mula Kebimbangan yang Membutuhkan Kebenaran Absolut

Selamat datang di website personal saya. Pada post pertama ini saya akan sedikit menceritakan awal mula terbentuknya website ini. Selama sebulan terakhir, saya mengalami kebingungan yang sedikit aneh. Perasaan bimbang ini biasanya saya bisa atasi dengan mengacu ke pegangan-pegangan kebenaran yang saya miliki. Namun pada konflik kali ini, justru kebenaran tersebut yang mulai berselisih satu sama lain. Pengalaman yang pasti dialami oleh mahasiswa religius. Kebenaran yang selama ini menjadi identitas diri sebagai Nago Tejena mulai memudar.

Semua dimulai semenjak saya membaca buku berikut, berjudul “Master of The Mind” karya Theodore Millon, Phd.

Master of The Mind, karya Theodore Millon

Sejujurnya saya tidak tahu apa yang akan saya dapatkan di buku ini. Saya mulai membaca hanya karena penulisnya merupakan satu pionir Teori Kepribadian yang sedang booming di dunia psikologi dan judulnya terdengar keren. Buku ini merupakan kompilasi sejarah mengenai pikiran dan gangguan mental dari 7 perspektif berbeda. Berikut kutipan Millon dalam kata pengantar buku ini :

“Readers often focus their attentions on one or another perspective, ignoring the views of others. Strength would come by embracing all the responsible paradigms of the mind.”

Kekuatan muncul atas pemahaman menyeluruh yang didapat dari berbagai paradigma berpikir. Prinsip yang dapat diterapkan di berbagai situasi dan konteks. Andaikan dari setiap konflik kita dapat melihat tidak dari sudut kita saja, tentu solusi akan mudah dicapai. Konsep yang menurut saya benar dan sah-sah saja.

Lalu Darimana Kebimbangan Muncul?

Seiring saya membaca, saya menemukan banyak insight menarik. Tentang bagaimana manusia selalu berusaha mencari tahu, dan tidak akan puas jika tidak memiliki jawaban. Ketika manusia tahun 600 SM merasakan kecemasan, kebingungan, depresi, dan lainnya, mereka tidak mampu memahaminya.

Ketidaktahuan atas suatu penyakit, terkadang lebih menyiksa dibandingkan penyakit itu sendiri. Oleh karena itu, muncul ide yang unik. Mereka menganggap bahwa ada faktor eksternal yang mengganggu mereka, sehingga mereka merasa demikian. Inilah awal mula dari animisme, mitologi,  dan demonologi.

Demonology, Karya Pieter Brueghel the Elder (1526-1590)

Jujur saya tertawa kecil ketika membaca ini, “Bodoh sekali ya orang-orang zaman dulu, pikir saya”. Ketidaktahuan atas konsep yang dianggap cukup sederhana di zaman sekarang membuat mereka berfantasi. Saya masih terhibur sampai saya membaca kalimat berikut :

Nevertheless, we may assume that primitive humans saw a world populated with spirits that were essentially illusions created by their own anguish and perplexity.

“Wait,what?”

Bagaimana dengan cerita-cerita dari budaya dan agama kita? Begitu banyak cerita mengenai interaksi antara manusia, setan, dewa, dan lainnya. Apakah semua cerita itu hanyalah hasil dari ketidakseimbangan pikiran penulisnya? Apa bedanya dengan halusinasi dan delusi yang mungkin kita lihat saat mengalami disosiasi maupun gangguan mental seperti schizophrenia.

Meskipun memang, apa yang ditulis Millon belum tentu sepenuhnya benar. Namun hal ini membuktikan bahwa bahkan 2 hal yang sangat saya tekuni sekalipun bisa bertolakbelakang, padahal saya selama ini merasa mereka saling melengkapi. Entah apakah ilmu pengetahuan yang salah, agama yang benar, ataupun sebaliknya. Manusia tidak akan pernah tahu.

 

 Apa itu Kebenaran Absolut?

Niat reflektif pun muncul, mencoba mengkaji dan membuka satu persatu kepingan identitas dan label pada diri saya. Semenjak itu, keraguan lahir. Saya meragukan ilmu yang saya pelajari semenjak S1, saya meragukan agama saya yang saya miliki sejak kecil, saya meragukan budaya yang saya tahu semenjak saya bisa mengingat.  Mencoba melihat seluruh hal yang didunia ini dari seluruh sisi.

Pahamilah Dirimu Sendiri, oleh Socrates.

Jangan salah, saya tetap mencintai ilmu, agama dan budaya saya, dan anda pun seharusnya demikian. Saya percaya bahwa Agama, Budaya, dan Ilmu Pengetahuan yang kita tahu merupakan suatu hal yang baik, dan kita harus bersyukur karena telah memiliki dan menerapkannya. Tetapi apapun kebenaran yang kita pegang, akan memiliki sudut mati, sudut yang mungkin dapat dicela dari kebenaran lain. Kebenaran yang manusia percayai akan selalu relatif, tergantung bias personal dan sosial.

Secara logika, suatu alam semesta pastilah memiliki Kebenaran Absolut. Kebenaran yang tak terbantahkan oleh siapapun, kapanpun, dimanapun, dan berada di atas kebenaran lainnya.

Saya percaya, para pemuka agama terdahulu dari masing-masing agama merupakan orang yang tercerahkan dan mampu mengajarkan Kebenaran Absolut. Akan tetapi yang saya tidak percayai adalah apakah ajaran-ajaran mereka sama sekali tidak terbiaskan sedikitpun ketika diturunkan melalui banyak tangan sampai saat ini?

Kekeliruan dalam penyampaian inilah yang memungkinkan Kebenaran Absolut ini akan sirna. Entah itu puluhan maupun ribuan tahun lagi, perlahan akan mulai kehilangan kekuatannya. Mungkin 3000 tahun lagi orang-orang akan membaca sejarah dan menertawakan apa yang kita percayai saat ini.

Sementara sampai sampai kapanpun, Kebenaran Absolut tidak akan pernah terungkap seutuhnya.

 

Lalu Untuk Apa Manusia Hidup?

Merasa hanya ditipu dan diombang-ambing zaman, saya sempat kehilangan tujuan hidup. Mungkin ini yang dinamakan isu eksitensialisme. Untuk apa manusia hidup? Hanya untuk lahir, dipermainkan kenyataan di dunia, tua, lalu meninggal, tanpa pernah memahami seutuhnya bagaimana Kebenaran Absolut bekerja.

Sebelum benar-benar terpuruk, untungnya saya banyak membaca kembali serta berdiskusi dengan beberapa orang yang saya percayai. Saya pun mulai mendapat titik terang. Berdiam pasif, apalagi bunuh diri, bukan jawaban. Kesadaran akan kebimbangan Kebenaran Absolut merupakan langkah yang tepat bagi saya untuk bertindak.

Seperti yang dikatakan Victor Frankl, penulis buku “Man’s Search for Meaning” dan pionir dari Logotherapy. Manusia seharusnya tidak bertanya mengenai makna dari hidup, namun ialah yang harus menyadari, bahwa ia adalah pihak yang sedang ditanyakan. Sepanjang sejarah manusia selalu mengulang kesalahan yang sama dalam mencari suatu Kebenaran, dan saya hampir terjebak dalam lingkaran yang sama ketika mempertanyakan Kebenaran Absolut. Kesalahannya adalah dengan terus menerus terobsesi pada hal di luar diri kita, sebagai jawaban dan takaran untuk bertindak maupun berperilaku, bukan ke dalam dirinya sendiri.

Apa yang Harus Manusia Lakukan?

Pertama, manusia harus memindahkan fokus dari luar diri ke dalam dirinya sendiri. Sepanjang sejarah umat manusia, terobosan ilmu pengetahuan hanya didapat saat manusia mulai melihat ke dalam diri sendiri. Penemuan empiris di lingkungan pun tidak akan ada artinya tanpa dihayati oleh sang penemu.  Jawaban sebenarnya hanya akan ditemukan setelah manusia bisa memahami dirinya sendiri.

Kedua, manusia harus menghadapi seluruh kebenaran duniawi dengan sikap yang tepat. Disini cara pandang saya berubah. Kekecewaan atas kebenaran-kebenaran duniawi bukanlah titik mati, melainkan kesempatan untuk menemukan sesuatu. Ilmu, Budaya, maupun Agama yang memiliki sudut mati bukan berarti salah, namun justru memiliki porsi Kebenaran Absolut. Seluruh pengalaman kebenaran ini seharusnya diresapi dan dihayati.

Terakhir, manusia harus bertindak. Jika hanya dengan merenung dan berkontemplasi, perubahan tidak akan terjadi. Kebimbangan dalam diri tidak akan akan sia-sia ketika manusia berdiam diri. Manusia yang bimbang memiliki kesempatan melakukan sesuatu yang lebih dibandingkan manusia yang nyaman. Tindakan yang tepat adalah tindakan yang didasari oleh seluruh pemahaman akan diri dan lingkungan, serta diterapkan sesuai konteks waktu, tempat, dan sosial.

 

Kesimpulannya?

Hanya dengan memahami diri sendiri, merangkul seluruh kebenaran duniawi, dan akhirnya bertindak dengan bijak, maka Kebenaran Absolut sepenuhnya dipraktekkan. Mulai saat itu, saya memutuskan untuk menjadikan premis ini sebagai landasan saya untuk meramu seluruh aspek Kebenaran Absolut. Sebagai sebuah pedoman hidup yang kekal, dapat diterapkan di berbagai daratan dan zaman. Sebagai sebuah kejelasan untuk menjernihkan kebimbangan manusia. Tentunya, sebagai tulisan permulaan dari seluruh isi website ini nantinya.

Know Yourself, Embrace Truth, Act Wisely

Inilah makna dan tujuan hidup saya, Bagaimana dengan Anda?

Komentar Anda

Related Post