Berteman dengan Depresi

Halo semuanya! Kali ini saya akan membahas mengenai konsep yang unik, yaitu “Berteman dengan Depresi”. Berita-berita bunuh diri yang belakangan muncul memicu banyak opini dari berbagai “Penggiat” ataupun “Ahli” tentang fenomena ini. Beberapa mengatakan bahwa depresi hanyalah simbol kelemahan pada seseorang. Banyak pihak yang mengutuk pendapat ini, dan menggalakkan bahwa depresi merupakan gangguan mental yang harus dilawan mati-matian.

Bagaimana menurut anda?

Well, tiap sudut pandang menurut saya memiliki porsi kebenarannya sendiri. Namun saya sendiri kurang setuju dengan konsep “Melawan Depresi”. Mungkin banyak kolega saya yang kurang setuju dengan ketidaksetujuan saya (?), tetapi mengapa? Saya akan bahas secara perlahan di tulisan ini. Bagi teman-teman yang ingin langsung membaca teknik “Berteman dengan Depresi” bisa langsung scroll ke bawah. Bagi anda para pembaca yang mungkin belum familiar dengan fenomena ini, pertama-tama saya akan menjelaskannya definisi dan karakteristiknya secara sederhana terlebih dahulu.

Apa itu Depresi?

Kita tahu depresi merupakan fenomena segala zaman. Hampir setiap tahunnya kita mendapatkan berita mengenai orang terkenal yang melakukan bunuh diri. Seakan-akan ketenaran, kekayaan, maupun berbagai hal lainnya tidak mampu untuk menjauhkan bayangan ini. Sebenarnya apa itu Depresi? WHO, bersama dengan salah satu kontributornya Matthew Johnstone menggambarkan Depresi sebagai “Black Dog”, atau seekor anjing hitam.

Depresi sering digambarkan sebagai “Black Dog”

Depresi merupakan gangguan mental No. 1 yang paling mewabah di dunia menurut American Psychological Association. Siapapun anda, dari pengusaha muda yang sukses, artis yang sedang naik daun, maupun mahasiswa dropout, dapat mengalami gangguan ini. Gangguan ini membuat mood anda terlihat sedih hampir setiap saat. Bahayanya, gangguan mental ini dapat mengancam nyawa orang yang memilikinya dengan memunculkan pikiran bunuh diri.  Pikiran negatif yang terus menerus tidak terkontrol, perasaan bersalah yang tidak dapat ditahan, serta harga diri yang sangat rendah merupakan ciri utama dari depresi.

Terdapat beberapa karakteristik lain dari Depresi yang bisa kita lihat dan rasakan sehari-hari. Mungkin anda pernah mengalaminya, ataupun pernah melihat teman anda yang mengeluarkan perilaku demikian. Anda bisa membantu melakukan observasi awal untuk membantu teman di sekitar anda.

Apa saja ciri depresi di kehidupan sehari-hari?

Kurang energi, merupakan ciri pertama. Pernahkah anda merasa badan anda terasa sangat berat dan tidak berenergi selama 1-2 minggu? Tentunya perasaan ini berbeda dengan kemalasan yang biasa kita miliki (hehe).  Orang dengan gangguan mental ini merasa apapun usaha yang ia lakukan, selalu ada perasaan yang menghalanginya untuk mengerjakan sesuatu dengan maksimal. Bayangkan seperti ada sesuatu yang terus menerus menarik dirinya dari belakang layaknya seekor anjing hitam.

Kurang energi dan perasaan terbebani

Hobi dan Aktivitas Menyenangkan pun menjadi membosankan. Bayangkan anda seseorang yang memiliki hobi travelling, biasanya sedikit pun rencana untuk mengunjungi suatu tempat wisata yang baru akan membuat anda excited. Depresi bagaikan seekor anjing hitam yang selalu merusak kesenangan anda. Bahkan makan makanan favorit pun tidak lagi menggugah selera. Tak jarang orang dengan depresi mengalami penurunan berat badan

Apakah anda merasa tidak bergairah melakukan hobi?

Kacamata Negatif, adalah atribut wajib. Segala hal yang ada di lingkungan,  melewati filter masuk ke dalam proses pengolahan informasinya dengan bumbu negatif. “Untuk apa orang-orang begitu berusaha mengejar karir? Toh ujung-ujungnya akan gagal” , “Kenapa gerombolan orang itu melihat saya? Mereka pasti membicarakan kejelekan saya” , “Untuk apa keluarga saya sok baik dengan saya, sudah tahu saya satu-satunya beban keluarga ini”.

Pernahkah anda mengenakan kacamata ini?

Tidak selalu berdiam diri atau menyendiri, Mudah Tersinggung dan Marah juga merupakan perilaku yang bisa muncul. Mereka tidak bermaksud untuk menjadi orang yang jahat, namun kondisi mereka yang memaksa. Lingkungan harus lebih berempati, anda harus menahan diri mengatakan “Jangan malas! Ayo dong yang jantan semangat!” atau “Ga usah dipikirin! Ga usah negatif jadi orang!”. Mereka tahu hal ini salah, namun mereka tidak bisa melawannya. Ucapan seperti ini hanya akan melukai perasaan dan harga diri mereka.

Kesakitan menumbuhkan rantai agresi

 

Bagaimana mengatasinya?

Untungnya di samping begitu berbahayanya depresi, gangguan ini sangat highly treatable atau dapat disembuhkan dengan efektif menggunakan cara yang tepat. Bagaimana dengan kedua opini yang sedang beredar? “Depresi hanyalah kelemahan ” dan “Depresi harus dilawan”?

Memang, di mata orang-orang tertentu hal ini seakan seperti penyakit yang hanya menyerang orang lemah. Namun perlu diketahui bahwa orang-orang yang memasang tampang kuat pun bisa memiliki depresi dibalik kehadirannya yang gagah. Temuan-temuan ilmiah mengenai epidemik gangguan mental ini sudah tidak dapat disanggah lagi. Opini ini bagaikan menyembunyikan sampah di balik karpet, sampai kapanpun sampah itu akan tetap ada. Tambah lagi, menyembunyikan depresi dengan tampilan berpura-pura kuat bagi orang dengan depresi sangatlah melelahkan. Percayalah, mereka sudah pernah mencoba teknik ini.

Berpura-pura kuat sangat melelahkan

Depresi merupakan gangguan mental yang nyata dan harus dilawan. Ya dan Tidak. Diagnosis sebagai gangguan mental memang sudah ditetapkan, namun tidak harus dilawan dengan cara yang terlalu frontal dan penuh kebencian. Perlu anda ketahui, diagnosis merupakan kesepakatan para ahli. Analoginya mereka mengangkat istilah depresi dari 100 orang dengan gejala yang serupa, dan merangkum kategori tersebut. Namun camkan bahwa tiap orang dari 100 orang tersebut memiliki cerita yang berbeda dari tiap pengalaman yang mereka alami. Anda tidak bisa memukul rata dengan cara yang sama untuk mengatasinya. Menggunakan kategori sebagai panduan boleh, mencoba mengatasi benar, namun tidak dengan kebencian buta. Bagaimanapun juga, depresi adalah bagian dari cerita diri kita yang perlu dimaknai. Ketidaktahuan sangat berbahaya dalam menghadapi depresi.

Apakah anda tahu apa yang seberapa besar lawan anda?

 

Berteman dengan Depresi

Depresi bagaikan seekor anjing hitam yang selalu mengikuti anda. Anda tidak boleh mengabaikannya, mengusirnya, atau memukulnya. Anda dapat berteman dengan anjing hitam tersebut. Karena bagaimana pun juga, depresi adalah hasil dari suatu hal dalam diri kita. Anjing hitam ini layaknya seorang teman yang bisa membantu kita untuk lebih memahami diri kita. Bagaimana caranya?

Pertama, identifikasi depresi anda. Apa saja dari karakteristik di atas yang sudah pernah anda rasakan? Berhenti mengabaikan aspek-aspek ini, kenalilah mereka! Bagaimana pola tidur anda selama satu minggu terakhir? Bagaimana pola makan anda? Apakah anda merasa tidak bersemangat? Layaknya mengamati seekor anjing, perhatikan tinggi, warna, bulu, dan suara anjing tersebut.

Berhenti berusaha kabur, mulailah mengamati

Kedua, coba pahami anjing hitam ini. Apa satu titik atau pengalaman dimana anda mulai merasa seluruh hidup anda jatuh berantakan? Mengapa demikian? Rangkul pengalaman ini dengan penuh niatan mengerti. Percaya saya, anda akan mulai memahami diri anda dari sudut yang berbeda dari sebelumnya. Anda mungkin baru menyadari anda begitu terobsesi dengan kesuksesan, atau terlalu terbebani oleh kata-kata orang tua anda, atau mungkin terlalu memikirkan ucapan orang di sekitar anda.

Rangkul dan Pahami, sesederhana itu

Ketiga, ajaklah anjing hitam ini untuk bermain. Setelah melewati tahap kedua, Anda akan mulai melihat, bagaimana sebelumnya anda bisa berperilaku negatif. Pemahaman ini akan mengubah bagaimana anda menghadapi dunia. Sebelumnya anda selalu merasa diganggu, namun sekarang anda bisa bermain bersama.  Mungkin anda sadar bahwa sebelumnya anda merupakan orang yang sangat takut dengan penilaian boss anda. Kali ini anda dapat mencoba mengajak diri anda bersama si anjing hitam untuk tidak ambil pusing. Dunia akan terasa sedikit lebih indah jika anda mengerti bagaimana mengajarkan anjing hitam dan diri anda untuk bermain dengan tepat.

Ajarkan Trik dalam bermain!
Kesimpulannya?

Perlu saya sampaikan kembali, depresi bukanlah suatu hal yang asing yang perlu kita singkirkan dengan brutal. Depresi bagaikan seekor anjing hitam yang datang kepada diri kita, dengan niatan menjadi teman. Ia berusaha untuk mengajarkan kita sesuatu. Kita dapat mengerti apa yang membuat diri kita merasa tidak berharga, mengapa kita selalu berpikir negatif, serta kemana sebenarnya tujuan hidup yang paling kita inginkan.

Sebagaimana teman yang baik, depresi akan berhenti menghantui kita ketika kita sudah mendapatkan pelajaran berharga yang cukup. Suatu saat, kita akan dapat dengan lapang dada berkata “Good bye old friend, thank you for everything” , “Selamat jalan kawan lamaku, terima kasih atas segalanya”.

Suatu saat, inipun akan berlalu

Hingga momen perpisahan itu tercapai, kita perlu berusaha dengan giat. Anda bukanlah satu-satunya orang yang sedang berjuang menghadapi persoalan ini, anda tidak sendirian. Bila anda merasa perlu mendapatkan bantuan secepatnya, silahkan hubungi saya di sini. Saya akan berusaha semampu saya untuk membantu.

Selain saya, percayalah banyak orang di sekitar anda yang peduli dengan anda. Carilah keluarga atau teman untuk berbagi, kalau bisa carilah bantuan professional seperti psikolog, konselor, psikiater, ataupun tenaga kesehatan mental lainnya. Saya juga menyediakan artikel tentang 7 Tips Cara Mengatasi Depresi, anda bisa baca dan terapkan sesuai dengan preferensi anda.

Perjuangan ini memang berat, namun tidak tanpa makna. Apapun persoalannya, suatu saat pasti akan berlalu dan memberikan pengalaman berharga. Tetaplah semangat!

Catatan :

Anda bisa menambahkan pendapat, opini, maupun pengalaman anda di kolom komentar di bawah. Saya akan dengan senang hati menerima dan merespon tulisan apapun. Baik setuju dan tidak setuju, tujuan utama dari tulisan ini adalah pembelajaran 🙂

 

Sumber Ilustrasi :

Gambar yang saya gunakan, saya ambil dari akun youtube World Health Organization. WHO dan Matthew Johnstone membuat video yang menurut saya sangat tepat dalam menggambarkan depresi. Anda bisa menonton video itu di sini.

Komentar Anda

Related Post