4 Logical Fallacy Manusia | Edisi Pilpres (Jokowi dan Prabowo)

Menjelang pemilihan presiden, kita diserbu dengan berbagai macam informasi. Dari televisi, surat kabar, maupun social media di sekitar kita. Informasi ini membantu kita, manusia untuk membentuk persepsi akan kedua calon beserta kubunya. Sehingga nantinya kita dapat menentukan sikap kita untuk mendukung yang mana, membela yang mana, dan akhirnya memilih yang mana.

Tapi, apakah kita yakin bahwa persepsi yang kita buat terbebas dari berbagai jenis logical fallacy?

 

Logical Fallacy adalah sebuah kekeliruan atau kesalahan dalam berlogika. Merupakan suatu fenomena, dimana kita gagal menerapkan prinsip logika yang tepat saat menyeleksi, mengumpulkan, serta memaknai informasi yang ada.

Pada post kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskan memberikan 4 jenis logical fallacy yang mungkin muncul di suasana pilpres ini.

1. Bandwagon Effect.

Merupakan sebuah Kesalahan logika, dimana kita mengikuti atau mempercayai sesuatu, ketika banyak orang yang  melakukan hal yang sama. Jadi kita menganggap bahwa jumlah orang merupakan standard dari validasi suatu kebenaran.

Contoh

Ayah anda memilih Jokowi, Ibu anda memilih Jokowi, Tetangga, kakek, nenek, dan semua teman di facebook anda memilih Jokowi. Karenanya, anda memilih Jokowi

Sebenarnya mendukung Jokowi bukanlah hal yang salah, Namun ini menjadi salah karena alasan anda untuk memilih bukanlah kesesuaian visi misi, karakteristik pemimpin yang tepat, program kerja, dan lainnya.

Nah mengapa ini bisa terjadi? Kita manusia merupakan makhluk yang egois, kita ingin melindungi diri kita sendiri, karenanya menyeramkan bagi kita untuk berbeda dengan orang di sekitar kita. Oleh karena itu kita akan mengikuti sikap mereka terhadap sesuatu, agar tidak berbeda. Meskipun belum tentu hal tersebut benar

 

2. Appeal to authority.

Kesalahan logika dimana ketika kita menganggap sesuatu itu benar, karena seseorang dengan posisi yang lebih tinggi, atau ahli mengatakan demikian.

Contoh

Seorang berkata bahwa  “Negara Indonesia mampu mencapai kemajuan yang luar biasa.. ketika presidennya memiliki background militer. Karenanya, kita harus memilih Prabowo”. Mengetahui bahwa orang yang berkata tersebut adalah seorang professor, anda langsung mempercayainya.

Dalam kasus ini pun, mendukung Prabowo bukan hal yang salah, Namun anda mendukung karena semata-mata, mendengar omongan seseorang dengan posisi atau keahlian lebih tinggi daripada anda, itu merupakan suatu kesalahan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Manusia itu malas berpikir, mempercayai sosok yang dirasa lebih hebat dan lebih tahu, jauh lebih mudah dibandingkan kita mencoba menganalisa dan mengkritisi secara mandiri.

Memang, keahlian seseorang berkontribusi akan argumen yang keluar dari mulutnya. Namun ketika argumen tersebut sudah dilancarkan, ke absahan argumen itu bisa dinilai dari argument itu sendiri. Seorang prajurit bisa saja memberikan strategi perang yang lebih masuk akal dibandingkan jendralnya. Atau seorang mahasiswa bisa saja memberikan pandangan politik yang lebih make sense dibandingkan dengan seorang professor. Atau seorang Youtuber dengan sub di bawah 1000 bisa saja memberikan konten yang lebih berkualitas dibandingkan Youtuber dengan sub di atas 10 juta

 

3. No True Scotsman.

Sebuah Kesalahan logika dengan menggunakan alasan  “kemurnian” atau “keaslian” sebagai alasan untuk menghindar dari suatu serangan ataupun kritik.

Contoh

A yang mengatakan kepada B “Katanya pendukungnya Jokowi merobek poster prabowo di kecamatan ini”. Kemudian B yang merupakan pendukung Jokowi, mengatakan bahwa “tidak mungkin, pendukung Jokowi yang asli tidak seperti itu”.

Jadi kita bisa lihat bahwa B mengungkapkan keaslian atau kesejatian pendukung Jokowi untuk mengeluarkan perilaku orang tersebut dari kelompoknya. Padahal memang benar orang tersebut dari kelompok jokowi

Nah, kenapa ini bisa terjadi? ekali lagi, kita itu makhluk yang egois, yang membawahi kita merupakan label yang baik. Entah itu ras, suku, agama, pilihan politik, kubu partai, atapun yang lainnya, harus yang baik.

Karenanya, ketika kita menemukan informasi , bahwa terdapat seseorang dari label kita melakukan sesuatu yang jelek, kita langsung mengeksklusikan mereka. Padahal mereka ya memang berasal dari label kita.

Hal ini membuat seseorang gagal untuk mengkritik atau memperbaiki sesuatu dari golongan mereka sendiri.

Jadi sebenarnya mereka mungkin tidak terlalu peduli dengan kelompok mereka, mereka hanya peduli dengan mereka yang berada di bawah label kelompok tersebut

4. Black or White

Sebuah Kesalahan yang menganggap hanya ada 2 kondisi , antara hitam atau putih, dan tidak ada alternatif kondisi lainnya yang ada.

Contoh : A bertanya kepada B “Kamu.. pendukung Prabowo ngga?”. B berkata “Nggak”. Kemudian A berkata “Ohh.. ternyata pendukung Jokowi ya”.

Padahal Belum tentu B 100% pendukung Jokowi.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Kembali, Manusia malas untuk berpikir, kalau ngga hitam ya putih, kalau ngga baik ya buruk, kalau ngga Prabowo ya Jokowi. Padahal, begitu banyak gradasi warna abu-abu di dunia ini (but not in their brain tho)

Kita sangat rentan sebagai manusia untuk membentuk logical fallacy model manapun. Anggaplah pilpres ini sebagai tantangan, bagi kita untuk menentukan pilihan yang bebas dari fallacy fallacy yang ada.. semoga dengan itu kita bisa memilih pemimpin yang terbaik. Dan masa depan bangsa kita bisa menjadi lebih baik

Sekian untuk post kali ini, jangan lupa cek konten ini dalam bentuk video di channel youtube saya

dan ingat untuk share, karena saya ingin viral.

 

Komentar Anda

Related Post